Nama YAHWEH Sudah Dikenal di Zaman Abraham, Ishak dan Yakub

Jika kita membaca naskah terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia untuk Keluaran 6:2, akan tersirat sebuah pemahaman bahwa Nama Sang Pencipta, Yahweh, belum dikenal oleh leluhur Israel, yaitu Abraham, Yitshaq dan Yakob. Selengkapnya ayat tersebut berbunyi : “…Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai (A) Yang Maha Kuasa tetapi dengan Nama-Ku TUHAN, Aku belum menyatakan diri”. Sebagaimana kita ketahui, bahwa huruf kapital “TUHAN”, dalam kamus LAI dibagian belakang dijelaskan sebagai “YAHWEH”[1] 
David L. Hinson memberikan ulasan mengenai Keluaran 6:2 sbb : “Kita telah mengetahui bahwa Abraham belum mengetahui tentang nama Yahweh. Menurut Keluaran 6:3 para Bapa Leluhur Israel mengenal (Tuhan) dengan gelar El Shaday, yang berarti (Tuhan) Yang Maha Kuasa. Nama ini digunakan enam kali dalam Kitab Kejadian, sekurang-kurangnya satu kali dalam hubungannya dengan masing-masing Bapa Leluhur itu (Kej 17:1; 28:3; 43:14; 49:25). Kesimpulannya ialah para Bapa Leluhur Israel menggunakan nama El (atau dalam bentuk jamaknya : Elohim) sebagai suatu bentuk rasa hormat bilamana mereka berbicara tentang (Tuhan)[2]
Kita akan menyimak naskah Ibrani Keluaran 6:3 sbb : [3]
אני יהוה׃ וארא אל־אברהם אל־יצחק ואל־יעקב באל שׁדי ושׁמי יהוה לא נודעתי להם
Dalam bentuk latin ayat tersebut berbunyi, “wa eraa el Avraham el Yitshaq we el Yaaqov be El Shaday ushemi Yahweh lo nodaiti lahem“. Kita akan menyimak beberapa terjemahan dari berbagai versi Kitab Suci yang tersedia.
Menurut The King James Version, “And I appeared unto Abraham, unto Isaac, and unto Jacob, by the name of God Almighty, but by my name JEHOVAH was I not known to them”[4]. Menurut The New International Version, “I appeared to Abraham, to Isaac and to Jacob as God Almighty, but by my name the LORD I did not make myself known to them”[5]. Menurut Holy Bible, New Living Translation, “ I appeared to Abraham, to Isaac, and to Jacob as God Almighty, though I did not reveal my name, the LORD, to them”[6]. Menurut Darby Bible, “And I appeared unto Abraham, unto Isaac, and unto Jacob, as the Almighty God; but by my name Jehovah I was not made known to them[7]. Menurut Young’s International Version, “and I appear unto Abraham, unto Isaac, and unto Jacob, as God Almighty; as to My name Jehovah, I have not been known to them”[8]
Dari daftar perbandingan terjemahan diatas, hampir semua penerjemah, termasuk Septuaginta (naskah terjemahan paling awal), menerjemahkan kalimat dalam bahasa Ibrani, “ushemi Yahweh lo nodaitu lahem”, sebagai “dengan nama-Ku, Yahweh, Aku belum menyingkapkan, menyatakan, memperkenalkan kepada mereka”. Hanya naskah King James Version yang menerjemahkan dalam bentuk pertanyaan retoris, “dengan nama-Ku Yahweh, tidakkah Aku telah menyatakan diri pada mereka?”. Nampaknya, yang menjadi pokok persoalan adalah menerjemahkan kata “lo”. Penerjemah King James Version memilih mengartikan sebagai bentuk “penegasan” atau “kalimat retoris”, sementara kebanyakan penerjemah mengartikan sebagai bentuk “negasi” atau “pengingkaran”.
Terhadap perbedaan diatas, kita akan melihat garis pemetaan penjelasan beberapa teolog, untuk mendapatkan suatu benang merah pemahaman. Paling tidak, ada tiga teori untuk menjelaskan “ketidaksepakatan” penerjemahan terhadap Keluaran 6:2 tersebut. Teori pertama, dikemukakan oleh John Mc .Faydyen. Menurutnya, para Patriakh atau leluhur Israel, belum mengenal nama Yahweh. Mereka hanya mengenal nama El Shaday. Nama Yahweh baru diungkapkan melalui Musa. Nama Yahweh diambil dari suku Keni dan Midian yang sudah tinggal lama di Horeb. Kemudian nama Yahweh diadopsi menjadi nama bagi Tuhan Israel[9].
Teori kedua, dikemukakan oleh Thomas Scott dan Robert Jamieson. Menurutnya, ungkapan dalam Keluaran 6:3, bukan suatu pernyataan melainkan suatu bentuk pertanyaan, sehingga menghasilkan bentuk kalimat, “Namun dengan Nama-Ku Yahweh, belumkah/tidakkah Aku memperkenalkan diri pada mereka?”[10]. Teori ketiga dari Henry Cowles. Dia menjelaskan bahwa Keluaran 6:3 merupakan kehadiran pewahyuan secara khusus mengenai naa Yahweh, namun bukan berarti untuk pertama kalinya nama Yahweh itu didengar oleh para leluhur Israel[11].
John J. Davis memberikan komentarnya mengenai teori ketiga, “This viewpoint appears to be the best interpretation of the verse in the light of both the previous Pentateuchal material and the immediate context of the verse itself” . Teori ketiga dianggap sebagai penafsiran terbaik dan terpercaya[12]. Senada dengan pernyataan diatas, Merril F. Unger menyatakan demikian, “What is meant is that its meaning had not yet been revealed…this passage does not concern itself at all with the occurance or non occurance in the pre Mosaic era. Rather, it concerns itself solely with the declaration of the revelation of that name[13]. Merril berkeyakinan bahwa pengungkapan nama Yahweh merupakan deklarasi nama Sang Pencipta dan bukan berarti sama sekali belum diknal oleh Abraham, Yitshaq dan Yakob.
Perlu ditambahkan pendapat dari Adam Clarke, “I believe the simple meaning is this, that though from the beginning the name JEHOVAH was known as one of the names of the Supreme Being. Yet what it realy implied they did not know. El Shadai, God All Sufficient they knew well by continual provision he made for them and the constant protection he afforded them. But the name JEHOVAH is particularly to be referres to the accomplishment of promises already made[14]. Ringkasnya, beliau berpendapat bahwa Nama Yahweh merupakan pernyataan yang menyempurnakan janji-janji yang sebelumnya dialami oleh leluhur Israel, melalui nama El Shaday
Dari sekian terjemahan yang berbeda, manakah diantara terjemahan tersebut yang menedekati teks aslinya dalam bahasa Ibrani? Nampaknya, teori ketiga yang menjelaskan bahwa Nama Yahweh telah dikenal pada zaman Abraham, Yisthaq dan Yakub meskipun penggunaannya lebih populer dan familiar dengan istilah El Shaday, dapat diterima sebagai suatu penjelasan yang paling dapat dipertanggungjawabkan. Alasannya, dalam Kejadian 4:26 kita diberikan suatu kesaksian bahwa nama Yahweh telah dikenal sejak zaman Enos, sebagaimana tertulis : “Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama Yahweh”.
Bahkan lebih jauh lagi, dalam laporan Kejadian 2:7, Nama Yahweh dihubungkan dalam penciptaan. Jadi, peryataan nama Yahweh pada Musa, merupakan “Deklarasi Nama-Nya”, atau “Penyingkapan Nama Pribadi-Nya” yang sebelumnya telah dikenal oleh leluhur Israel (Kel 3:15).
Nama Yahweh bukan satu-satunya nama yang disingkapkan pada Musa, namun secara definit dan eksklusif, nama Yahweh disingkapkan pada Musa dalam hubungannya dengan karya penyelamatan Israel dari perbudakan Mesir dan tindakan-Nya dalam mengalahkan tuhan-tuhan Mesir.
Persoalan yang tersisa adalah, manakah terjemahan yang akurat dari Keluaran 6:2, khususnya dalam bahasa Indonesia?. Secara teoritik, penjelasan dalam teori ketiga dapat diterima. Namun secara semantik (makna kata) atau gramatika (tata bahasa) manakah terjemahan yang paling mendekati dengan maksud bahasa aslinya ? Sebelum sampai pada keputusan tersebut, baiklah kita memeriksa dan menelaah beberapa kata kunci dalam bahasa Ibrani, untuk membuka tabir penerjemahan yang akurat. Jika kata לא (lo) dalam Keluaran 6:2, diterjemahkan “Was I Not” atau “Did I Not”, sesungguhnya tidaklah tepat!. Jika suatu kata berbentuk pertanyaan retoris, biasanya digunakan kata sandang (definit article) ה (Ha)seperti pada kalimat berikut : הלא כתבתי לך (ha lo katavti leka, Ams 22:20) yang artinya, “Bukankah aku menuliskan padamu?”. Demikian pula pada kalimat berikut, הלוא אני יהוה (ha lo Ani Yahweh ?, Yes 45:21) yang artinya, “Bukankah Aku Yahweh ?”. merujuk pada analisis kata dan konteks kalimat, maka kata לא (lo) dalam keluaran 6:2, lebih tepat diterjemahkan dengan kata “Tidak” atau “Belum”, meskipun berdasarkan konteks keseluruhan perikop, makna kata “Tidak” atau “Belum”, bukan bermakna “sama sekali belum dinyatakan”. Selanjutnya mengenai kata באל שׁדי  (Be El Shaday), seharusnya diartikan “melalui” atau “dalam” atau “sebagai”. Berdasarkan konteks kalimat, “be El Shaday”, bermakna, “sebagai El Shaday” atau Tuhan Yang Maha Kuasa. El Shaday, bukanlah nama pribadi namun istilah Ketuhanan yang mencakup segala sesuatu. Pernyataan ini mendukung apa yang dinyatakan dalam perikop sebelumnya (Kej 17:1, Kej 28:3, Kej 43:14, Kej 49:25). Leluhur Israel, pra Musa, lebih mengenal Yahweh dengan sebutan אל שׁדי  (El Shaday) suatu istilah umum yang bermakna Yang Maha Kuasa. Sebutan itu berkembang menjadi El Elyon, (Kej 14:22) El Olam , (Kej 21:33), El Roi, (Kej 16:13). Meskipun nama itu sudah dikenal, sejak zaman Adam, Enos, namun secara definit dan ekslusif nama itu belum dinyatakan pada periode Abraham, Yitshaq dan Yakub.
Namun ada satu masalah harus dipecahkan. Jika nama Yahweh belum definit eksklusif disingkapkan, pada periode Abraham, Ishak dan Yakub, lalu mengapa dalam Kitab Kejadian 12:8, Kejadian 14:22, kejadian 15:7 dan Kejadian 16:2, nama Yahweh telah disebut atau dipanggil oleh Abraham, Yitshaq dan Yakob ?. Darimana mereka mengetahui nama itu ?. Ada beberapa kemungkinan jawaban :
Kemungkinan pertama, Musa yang menuliskan nama Yahweh, karena dia beranggapan bahwa El Shadai adalah sama dengan Yahweh. Indikasi ini terekam ketika penulis Kitab Kejadian, yaitu Musa menjelaskan, , “Kemudian Hagar menamakan Yahweh yang telah berfirman itu dengan sebutan, ‘Engkaulah El Roi’ (Kej 16:13).
Kemungkinan kedua, ingatan yang ditinggalkan leluhur umat manusia, yaitu Adam, Enos serta leluhur Abraham, Yitsahq dan Yakob, mengenai nama Yahweh. Dengan demikian, mereka dapat saja berganti-ganti menyebut El Shadai , El Olam , El Gibor bersamaan dengan Yahweh. Hanya dalam praktiknya, nama-nama dengan khas El, lebih populer dan familiar.
Selanjutnya, kata ושׁמי (ushemi) seharusnya diterjemahkan, “Dan dengan Nama-Ku”. Maksudnya, dengan nama Yahweh, Abraham Ishak Yakub, belum diberikan penyingkapan secara khusus sebagaimana yang dialami Musa. Disinilah perbedaan “be El Shaday” (sebagai El Shadai) dengan “ushemi Yahweh” (dengan Nama-Ku Yahweh), menjadi suatu pernyataan yang konkret. Mempertimbangkan beberapa analisis eksegetis diatas, nampaknya lebih tepat jika Keluaran 6:2 diterjemahkan demikian : “Aku telah menyatakan diri kepada Abraham Ishak dan Yakub sebagai El Shadai dan dengan Nama-Ku Yahweh Aku belum menyatakan pada mereka
Kata “belum” dalam ayat tersebut harus dimaknai bukan sama sekali tidak pernah mendengar nama Yahweh, namun secara eksklusif, definit, nama itu belum dideklarasikan sebagai nama yang khusus pada Abraham Ishak dan Yakub. Nama itu menjadi khusus, ekslusif, definit dalam penyebutannya saat periode Musa dan seterusnya (Kel 3:15).
Beberapa kesimpulan penting yang dapat kita peroleh dari kajian singkat ini adalah : Pertama, nama Yahweh sudah dikenal sejak zaman Adam (Kej 2:7), Enos (Kej 4:26) dan leluhur Israel Namun pada zaman Abraham, Yitshaq dan Yakob, sebutan El Shadai lebih populer dan familiar untuk menyebut nama Yahweh. Kedua, nama Yahweh disingkapkan secara definit dan ekslusif pada Musa demi tugas perutusannya. Nama Yahweh dihubungkan sebagai nama yang membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, nama yang dihubungkan sebagai pemberi Torah bagi Israel. Ketiga, makna kata “tidak” atau “belum” dalam Keluaran 6:2, bukan bermakna bahwa nama Yahweh sama sekali tidak dikenal. Merujuk pada pengalaman Hagar, yang menamakan Yahweh yang memberi air di padang gurun, sebagai El Roi, maka nama Yahweh sesungguhnya telah dikenal namun lebih familiar dengan sebutan-sebutan pengganti, untuk mensifatkan karakter dan karya-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: